Senin, 21 Januari 2013

Pemilu: Serangan Fajar Vs Jekkong


Pemilihan kepala daerah atau Pilkada tidak lagi menghitung hari, tetapi tinggal menunggu jam saja. Besok pagi  mulai jam 07:00 WITA, masyarakat mulai mendatangi  Tempat Pemungutan Suara (TPS). Berbagai macam aura penyambutan mulai terasa. Ada yang menyambut dengan senang hati karena mendapat kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya. Ada juga yang sudah tidak sabar ingin segera memilih dan memberikan suaranya kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pilihannya.


Dilain pihak, ada juga yang was-was campur khawatir. Siapa mereka? Pertama, mereka adalah pendukung fanatic masing-masing calon. Mereka menghawatirkan apakah calon yang mereka dukung penuh akan keluar sebagai pemenang atau tidak? Bahkan tanpa sadar kalau masa kampanye sudah usai, mereka masih saja sibuk merekomendasikan calon unggulannya kepada teman, keluarga dan tetangga.

Yang kedua, adalah tim sukses dari masing-masing calon. Rasa as-was yang menghinggapi mereka tidak lebih karena mereka ingin segera menikmati hasil kerja keras mereka selama mengusung calon yang mereka jagokan. Apalagi jika mengkalkulasi besarnya dana kampanye yang dihabiskan, maka optimisme menang harus diletakkan setinggi-tingginya.

Yang ketiga, tentunya adalah mereka yang konsentrasinya hanya focus pada bagaimana agar perhelatan lima tahunan ini benar-benar memberikan hasil sesuai yang mereka harapkan, dan tidak ada sedikitpun yang menciderai kegiatan ini. Mereka adalah para calon, yang pada pemilu kali ini berjumlah tiga pasang. Masing-masing pasangan pastinya tidak ingin pelaksanaan pemilu kali ini diciderai dengan kecurangan.

Kecurangan dalam pemilu adalah hal sering menjadi topic pembicaraan. Apalagi disaat-saat menjelang waktu pemungutan suara seperti sekarang ini. Masing-masing tim dari pasangan kandidat akan melakukan upaya dan strategi jitu untuk menghindari kecurangan. Siapa pun orangnya, semua pasti tidak ingin dicurangi.

Apa itu Serangan Fajar?

Serangan Fajar merupakan istilah yang dulu dikenal saat perebutan kemerdekaan atau saat terjadi Pemberontakan G 30 S PKI. Tetapi istilah itu sekarang digunakan saat musim pemilu tiba. Serangan Fajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh  tim pendukung salah satu pasangan kandidat yang ikut pemilu dengan membagi-bagikan uang kepada masyarakat yang mempunyai hak pilih. Waktu yang digunakan untuk kegiatan ini sesuai namanya yaitu antara pukul 01:00 dinihari hingga jam 06:00 pagi. Bahkan ada yang masih menjalankan aksinya satu jam sebelum ke TPS.  Dilakukannya di waktu fajar tujuannya agar tidak terlihat oleh Panintia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan tidak juga oleh tim sukses dari calon lain.

Serangan Fajar merupakan salah satu bentuk dari suap politik. Orang yang melakukannya berharap agar masyarakat yang menerima uang yang mereka bagikan mau memilih kandidat yang mereka usung. Cara ini dianggap cukup jitu karena yang menjadi targetnya adalah masyarakat yang taraf ekonominya berada digaris bawah. Mereka dengan mudah dibeli suaranya karena keadaan mereka yang kekurangan uang akan dengan mudah menerima tawaran untuk memilih calon sesuai dengan permintaan yang melakukan aksi Serangan Fajar.

Lalu seberapa efektifkah Serangan Fajar bisa menaikkan persentasi suara dalam pemilu? Saat ini kita tidak bisa memastikan efektifitasnya karena rakyat sekarang makin melek politik. Sehingga tidak jarang mereka menerima uang dari Serangan Fajar tapi tetap pada pendiriannya untuk memilih calon lain. Istilahnya “ambil uangnya, jangan pilih calonnya”. Wah, kedengarannya seperti penghianatan. Tetapi mereka pun beralasan bahwa selama ini penderitaan mereka juga tidak sedikit disebabkan oleh penghianatan pemimpin dan (yang mengaku) wakil rakyat di parlemen. Spertinya impas ya. J

Apa itu Jekkong?

Terminology Jekkong muncul dan mulai dimasyarakatkan pada saat Pilgub tahun 2008. Salah satu pasangan calon waktu itu mengaku jika mereka di-jekkong-i (dicurangi). Jadi Jekkong bermakna curang. Curang dalam hal penggelembungan suara, curang dalam penggelembungan DPT, pembelian suara, dan macam-macam bentuk kecurangan lainnya terkait pemilihan umum dan pemungutan suara.

Bagaimana menghindari Jekkong? Beberapa strategi yang ditempuh oleh masing-masing tim sukses adalah dengan melakukan pengawalan ketat selama proses pemilu berjalan, mulai dari pemungutan suara, penghitungan, hingga mobilisasi suara  ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Masing-masing tim menempatkan dua orang saksinya di setiap TPS. Bahkan ada yang menggunakan saksi berlapis. Ada juga yang menggunakan tim intelijen khusus untuk mengamati dan mengawasi kegiatan pemilihan agar tidak dicederai dengan berbagai macam bentuk kecurangan (jekkong).

Bagai dua sisi mata uang, Serangan Fajar dan Jekkong merupakan istilah yang bermakna negative dalam kegiatan pemilihan umum. Tentunya kita semua berharap agar pemilihan gubernur (pilgub) yang tinggal beberapa jam lagi ini dapat berjalan dengan lancar dan damai. Kita semua tidak mengharapkan kedua istilah ini mencederai perhelatan lima tahunan yang esok akan dilaksanakan.

Mari saling menghargai dan menerima apapun hasilnya. Jika yang terpilih adalah bukan pilihan anda, terima dengan lapang dada. Jika yang menang adalah calon pilihan anda, tak perlu busung dada. Kita lihat saja hasilnya lima tahun kedepan. Dan bagi yang tidak memilih, selamat nah!! J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberikan kritikan dan saran untuk perbaikan... trimakasih ,, ^_^